PANDANGAN BEHAVORISME
TENTANG
DUNIA PENDIDIKAN
O
L
E
H
Nama
kelompok : Alfred U. Oka
: Petrus
Radja
Diserahkan:
Kepada Agustina yohanis S.Pdk
sebagai bagian dari tugas makalah psikologi umum
SEKOLAH TINGGI AGAMA
KRISTEN INFORMATIKA TIMOR
INDONESIA.
( S
T A K
R I )
KUPANG
2016
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN……………………………………………………………
A.
Latar
Belakang………………………………………………………
B.
Rumusan Masalah…………………………………………………
C.
Tujuan
Penulisan…………………………………………………….
BAB
II PEMBAHASAN……………………………………………………………
2.1. Pengertian Behaviorisme………………………………………………
2.2. Tokoh-Tokoh Behaviorisme…………………………………………….
2.3. Pengertian Pendidikan……………………………………………………
2.4.Tujuan Dan Fungsi Pendidikan…………………………………………
BAB
III PENUTUP……………………………………………………………………
3.1. Kesimpulan……………………………………………………………….
3.2. saran……………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Teori-teori
pembelajaran dalam desain pembelajaran tentang pendidikan mengatakan bahwa
lingkungan pembelajaran yang berteknologi dapat meningkatkan nilai para pelajar
, sikap mereka terhadap pendidikan, dan evaluasi diri dalam pengalaman belajar
mereka. Teknologi juga dapat
membantu untuk meningkatkan interaksi
antara pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar yang berpusat pada
pelajar. Dengan kata lain, penggunaan
media menggunakan computer media dapat membantu siswa itu yang bermanfaat dan
berkualitas.
Guru
sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan
pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran
yang tepat. Strategi pembelajaran harus
dipilih untuk memotifasi para pelajar, memfasilitasi proses belajar, mendorong
terjadinya interaksi dan memfasilitasi belajar kontekstual.
Jika menelaah ilmu psikologi, kita akan menemukan banyak teori. Jadi setiap manusia pasti mengalami sebuah
proses pendidikan. Seringkali manusia
dalam menempu pendidikan, makna dan hakikat tentang pendidikan ang sebenarnya
terlupakan. Hal ini terjadi karean
manusia memandang pendidikan sebagai kewajiban ang harus ditempuh, bukan
sebagai kebutuhan dan pada akhirnya kegiatan pendidikan yang menjadi rutinitas
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian behaviorisme ?
2.
Apa pengertian pendiidikan?
C.
tujuan Penulisan
1. untuk
mengetahui tentang pengertian behaviorisme
2. untuk
mengetahui pengertian pendidikan
3. para penulis akan membahas lebih lanjut
mengenai pandangan behaviorisme tentang dunia pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian
Behaviorisme
Behaviorisme
adalah aliran perilaku (perspektif belajar) adalah filosofi dalam psikologi
yang berdasar pada semua yang dilakukan oleh organisme termasuk tindakan,
pikiran, atau perasaan dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilku demikian
dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal
atau seperti pikiran. [1] Behaviorisme beranggapan bahwa, teori harus
memiliki dasar yang bias diamati tetapi tidak ada perbedaan antara proes yang
diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara
pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Menurut
teori belajar behaviorisme(behavioritik) atau aliran tingkah laku, belajar di
artikan sebagai proses perubahan tingkah laku
sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. [2]
Jadi
pandangan di atas mengatakan bahwa di mana belajar mempunyai proses yang cukup
panjang sehingga seseorang mempunyai wawasan yang luas akibat berintereaksi
dengan lingkungan maupun social, dan proses tingkah laku yang menggunakan
penguatan pada saat yang tepat, hingga respons sesuai dengan yang di
isyaratkan. Menurut psikologi
behaviorisme belajar adalah suatu proses
control instrumental yang berasal dari
lingkungan[3].
Sesuai
dengan argument di atas belajar adalah proses dimana individu mencaritahu apa
ang belum ia ketahui, dan proses belajar dipengaruhi oleh factor lingkungan,
dan proses belajar itu bias dimana saja dan kapan saja.
Teori
belajar yang lebih menekankan pada tingka laku manusia yang mengandung individu
sebagai makluk reaktif yang menerima respons terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk
perilaku seseorang. Behaviorisme muncul
sebagai kritik lebih lanjut dari
keragaman budaya. Behaviorisme secara
keras menolak unsure-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai objek studi dari
psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.
2.2.
Tokoh-Tokoh
Behaviorisme
a. Teori Belajar
Edward Lee Thorndike (1874-1874-1949)
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya
asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori
belajar ini disebut teori“connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah
dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat
dibuka secara otomatis bila knop didalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut
menghasilkan sebuah tindakan yang diikuti oleh perubahan yang memuaskan didalam
lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan diulangi kembali akan semakin
meningkat.[4]
Sesuai dengan argument diatas belajar adalah proses
interaksi antara stimulus yang berupa pikiran, perasaan, atau gerakan dan
respons, yang juga bisa berbentuk pikiran, perasaan,atau gerakan. Serta belajar adalah wujud tingka laku yang bisa
diamati.
b. Teori Belajar
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) dan Watson
Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap
anjing. Dalam percobaan inivanjing di
beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh
situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk
penandawaktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap
bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di
bank. Dari contoh tersebut diterapkan
strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti
stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon
yang diinginkan.[5]
Sementara individu
tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori diatas suatu proses perubahan yang terjadi karena
adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.
Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan
dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi
secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
c. Carlk L. Hull
Reinforcement adalah faktor penting
dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih
sebagai pada penguatan tingka laku. Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu
dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai
unsur O organisme). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang dapat
dilihat pada faktor R yang berupa output.[6]
Jadi sesuai dengan pendapat diatas yang menjadi sumber dalam belajar itu
adalah penguatan (reinforcement), sehingga fungsi dari penguatan itu menjadi
mempengaruh bagi organisme yang berperan didalam belajar, sehingga mencapai
hasil atau output. Implikasi
praktisnya adalah Guru harus merencanakan kegiatan belajar berdasarkan
pengamatan yang dilakukan terhadap motifasi belajar yang terdapat pada
sisiwa. Denganadana motifasi, maka
belajar merupakan pengetahuan. Makin
banyak belajar, makin banak penguatan (reinforcement) makin besar motifasi
memberikan respons yang menuju keberhasilan belajar.
d. Burrhus Frederic
Skinner (1904-1990)
Skinner menganggap bahwa reinforcement merupakan factor penting dalam
proses belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah mengontrol
tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi
sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant
conditioning. Operant conditing menjamin
respon terhadap stimuli. Bila tidak
menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan
tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa
dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. [7]
Sesuai pandangan diatas seorang individu atau sisiwa hanya
bergantung pada dimana rangsangan yang membuat seseorang menjadi focus atas
rangsangan yang diterima, tetapi juga membutuhkan penguatan yang penting. Operant conditioning adalah suatu proses
penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat
diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.
e. Robert Gagne
(1916-2002)
Teori gagne banyak dipakai untuk mendisain Software instructional (Program
berupaDrill Tutorial). Kontribusi terbesar dari teori instructional Gagne
adalah 9 kondisiinstructional:
1.
Gaining attention = mendapatkan
perhatian
2.
intorm learner of objectives =
menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akandicapai
3.
stimulate recall of prerequisite
learning = stimulasi kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar.
4.
Present new material = penyajian materi baru
5.
Provide guidance = menyediakan pembimbingan
6.
Elicit performance = memunculkan
tindakan
7.
Provide feedback about correctness =
siap memberi umpan balik langsung terhadap hasil yang baik
8.
Assess performance = Menilai hasil
belajar yang ditunjukkan
Pandangan diatas bersependapat dengan dengan Skinner bahwa reinforcement sangat
penting dalam belajar, meskipun alasan daripada kedua tokoh psikologi ini
berbeda namun mempunyai tujuan dan maksud yang sama. Jadi Gagne
disebut sebagai modern noebehaviouristik(untuk memenuhi tugas) mendorong guru
untuk merencanakan pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat
dimodifikasi.
f.
Albert Bandura (1925-sekarang)
Teori belajar Bandura adalah teori belajar social atau
kognitif social serta efikasi diri yang menunjukkan pentingnya proses mengamati
dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan
perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbal balik yang
berkesinambungan antara kognitif perilaku dan pengaruh lingkungan.
Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi
motorik, motivasi.Aplikasi teori behaviouristik terhadap pembelajaran siswa
Guru yang menggunakan paradigma behaviourisme akan menyusun bahan pelajaran
yang sudah siap sehingga tujuan pembelajaran yang dikuasai siswa disampaikan secara
utuh oleh guru.[9]
Guru tidak hanya memberi ceramah tetapi
juga contoh-contoh. Bahan pelajaran
disusun dari yang sederhana sampai yang kompleks. Hasil dari pembelajaran dapat diukur dan
diamati, kesalahan dapat diperbaiki. Hasil
yang diharapkan adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan Kekurangan
dan kelebihan Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang
membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsure kecepatan
spontanitas kelenturan daya tahan dsb.
Teori ini juga cocok diterapkan untuk
melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan metode ini
adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat mekanis dan hanya
berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya mendengarkan,
menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat
otoriter. Behaviorisme muncul sebagai kritik
lebih lanjut dari strukturalisme. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah
dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari
fungsionalisme.
Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur
kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek
studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang
nyata.Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke
dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Berarti juga
behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui
adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental. Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas
tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan
(1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner
daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad
sebelumnya.
Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari
strukturalisme Wundt.Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia,
aliran ini berkembang diAS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.
Aplikasi Teori Belajar Behaviorisme dalam Pembelajaran
Untuk mengaitkan teori behaviorisme dengan praktik pembelajaran, perlu
dipahami terlebih dulu, mengenai prinsip belajar menerut behaviorisme.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Teori ini beranggapan bahwa yabg dimaksud dengan
belajar adalah perubahan tingkah laku. seseorang dikatakan telah belajar
sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukan perubahan tingkah laku
tertentu. Perubahan perilaku itu biasa
negative atau positif bergantung apa yang ingin dipelajari.
2.
Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang dapat
diamati, yang terjadi karena hubungan stimulus dan respon, sedangkan proses
yang terjadi antara stimulus respon,
yang tidak dapat diamati itu tidak penting.
3.
Perlunya Reinforcement untul memunculkan perilaku yang
diharapkan. Respons akan semakin kuat jika reinforcement (baik positif maupun
negative) ditambah.
Penekanan proses belajar menurut teori behaviorisme ini adalah hubungan
stimulus dan respon. Dengan demikian,
agar pembelajaran dikelas menjadi efektif,
hendakya guru perlu memperhatikan
hal-hal berikut:
a.
Guru hendaknya memilih jenis stimulus yang tepat untuk
diberikan kepada peserta didik agar peserta dapat memberikan respon yang
diharapkan.
b.
Guru hendaknya menentukan jenis respon yang harus
dimunculkan oleh peserta didik. Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukan
peserta didik benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan, guru harus mampu
menetapkan bahwa respons itu dapat diamati dan diukur.
c.
Guru perlu memberikan pemahaman yang tepat untuk meningkatkan perilaku yang
diharapkan muncul dari peserta didiknya.
d.
Guru hendaknya segera memberikan umpan balik secara
langsung, sehingga sipelajar dapat mengetahui apakah respont yang diberikan
telah benar atau belum.
Meningkatkan
Perilaku yang Diinginkan
Enam strategi pengkondisian operant dapat digunakan untuk meningkatkan
perilaku yang diinginkan, yaitu :memilih penguat yang efektif, membuat penguat
yang bergantung dan tepat waktu, memilih jadwal terbaik untuk penguatan, mempertimbangkan membuat
perjanjian kontrak, menggunakan penguatan negative secara efektif, dan
menggunakan arahan seta pembentukan
1.
Memilih Penguat yang Efektif
Guru harus
mampu menemukan penguat mana yang berhasil dengan paling baik untuk setiap
peserta didiknya, yaitu membedakan setiap individu dalam menggunakan penguat
tertentu. Satu jenis penguat tertentu untuk peserta didik A belum tentu cocok
untuk peserta didik B. contoh: peserta didik A cocok dengan penguat
pujian,peserta didikC cocok dengan aktivitas dengan diberikan aktivitas tertentu
yang disukai, dan lain-lain. Untuk mengetahui penguat mana yang disukai dapat
ditanyakan langsung kepada peserta didik tentang penguat mana yang paling
disukai atau dengan memeriksa sejarah penguatan dari guru lain
2.
Membuat penguat menjadi bergantung pada tepat dan
waktu.
Agar penguat
efektif, guru harus memberikan penguat secara tepat waktu dan segera mungkin
setelah anak menampilkan perilaku tertentu yang diharapkan.
3.
Pilih jadwal terbaik untuk penguatan
Guru harus
memilih jadwal penguatan terbaik sesuai dengan tuntutan perilaku peserta didik
yang diharapkan guru. Pilihan jadwal tersebut adalah; jadwal rasio tetap,
jadwal rasio variabel, jadwal interval tetap, dan jadwal interval variabel, dan
ke empat jenis jadwal penguatan sudah diuraikan sebelumnya.
4.
Pertimbangan untuk Membuat Kontrak
Analisis
perilaku terapan menyarankan bahwa kontrak kelas seharusnya merupakan hasil
masukan dari guru maupun peserta didik. Pembuatan kontrak melibatkan pembuatan
ketergantungan penguatan secara tertulis. Jika masalah timbul, dan peserta
didik ingkar janji, guru dapat menunjukkan kontrak yang telah mereka setujui.
5.
Gunakan Pnguatan Negatif secara efektif
Penguatan
negative, meningkatkan frekuensi respon dengan menghilangkan stimulus yang
tidak disukai. Contoh: stimulus guru yang sering mengkritik atau tidak
menghargai jawaban serta pertanyaan peserta didik harus dihilangkan agar frekuensi bertanya dan
frekuensi berani menjawab semakin meningkat.
6.
Gunakan Arahan dan Pembentukan
Arahan
merupakan stimulus yang ditambahkan atau isyarat yang diberikan tepat sebelum
terjadinya kemungkinan peningkatan respon yang diinginkan. Arahan membantu
perilaku terjadi. Setelah peserta didik secara konsisten memperlihatkan respon
yang benar, arahan tidak lagi dibutuhkan. Jika arahan belum mampu membuat
peserta didik menampilkan perilaku yang diharapkan, guru perlu membantu dengan
pembentukan. Pembentukan (shaping) melibatkan pembelajaran perilaku baru dengan
memperkuat perkiraan secara berturut-turut terhadap suatu perilaku sasaran.
Mengurangi Perilaku
yang Tidak Diinginkan
Ada beberapa langkah yang dapat digunaka guru untuk mengurangi perilaku
anak yang tidak diinginkan, seperti: menganggu teman, memonopoli diskusi kelas,
bersikap sok tau pada guru (Alberto & Troutman dalam Santrouck)
1) Gunakan Penguatan
Deferensial
Dalam
penguatan deferensial, guru memperkuat perilaku yang lebih pantas atau perilaku
yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak tersebut. Contoh: guru dapat
memperkuat pesrta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran dengan memanfaatkan
komputer dari pada komputer hanya dipakai untuk memainkan game.
2) Hentikan
Penguatan (Extinction)
Tanpa
disengaja guru memberikan penguatan positif yang justru membuat perilaku pesrta
didik yang tidak diharapkan semakin terpelihara. Dengan demikian,guru harus
segera menghentikan penguatan positif tersbut agar perilaku yang tidak
diharapkan menurun atau hilang dan guru memberikan penguatan positif lagi
setelah perilaku yang diharapkan muncul. Contoh, guru selalu memberi perhatian
pada pesrta didik yang selalu bertanya dan menjawab dalam acara diskusi
kelompok, akhirnya ada pesrta didik yang tanpa sadar mendominasi peserta didik
lain hanya untuk mengejar pujian atau nilai. Dalam kasus ini, guru segera
menghentikan penguatan dengan cara meminta pesrta didik tersebut agar memberi
kesempatan pada teman lain yang belum aktif.
3) Hilangkan
Stimulus yang Diinginkan
Jika
menghentikan pemberian penguatan tetap tidak berhasil meningkatkan respon
diharapkan, penghilangan stimulus yang diinginkan harus dilakukan oleh guru,
dengan cara time out dan respon cost. Time out adalah penghentian penguatan
positif terhadap seseorang untuk sementara yaitu hamper sama dengan penghentian
penguatan, yang berbeda adalah waktu penghentian penguatan positif lebih lama
sampai terbentuk lagi perilaku yang diingikan.
Biaya respon (respon cost) adalah menjauhkan atau menganbil
penguatan-penguatan positif dari seseorang, seperti peserta didik kehilangan
hak istimewa tertentu, guru dapat menghilangkan waktu 10 menit istirahatnya
atau menghilangkan haknya untuk menjadi pemantau kelas.
4) Hadirkan
Stimulus yang Tidak Disukai (Hukuman)
Jenis stimulus yang tidak disukai dan paling umum digunakan guru adalah
teguran verbal serta disertai dengan kerutan dahi atau kontak mata. Tindakan
ini lebih efektif digunakan ketika guru berada dekat dengan peserta didik.
Teeguran tidak harus disertai bentakan atau teriakan, yang seringkali hanya
menaikkan tingkat kegaduhan dikelas dan menjadikan guru sebagai model yang
tidak terkendali bagi peserta didik.
2.3.
Pengertian
Pendidikan
Membicarakan tentang pengantar pendidikan yang
bersifat umum ini, dalam langka pertama yang harus kita perhatikan ialah
memperjelas pengertian tentang istilah pendidikan.
Menurut KKBI
mengatakan bahwa pendidikan berasal dari kata “didik” (mendidik). Prof. Brodjonegoro dalam Suwarno (1982:1-2) menyebutkan beberapa istilah
pendidikn diantaranya: paedagogiek (ilmu
menuntun anak), opuoeding (membesarkan),
panggulawentah(mengubah), educare (melatih atau mengajarkan), dan erzchicung (membangkitkan atau
mengaktifkan).[10]
Berdasarkan
kedua penyataan tersebut, bahwa pendidikan dapat didefenisikan antara lain:
Sebagai suatu ilmu yang tersusun atas prinsip dan
metode yang tersusun secara siitematis (terorganisasi) digunakan untuk mengajar
murid secara tidak langsung mengarahkan pada defenisi pendidikan sekolah, dan
sebagai sebuah prose sang terjadi
dilingkungan pendidikan (keluarga, sekolah, dan masarakat).
Pendidikan merupakan suatu lembaga dalam tiap-tiap
masarakat yang beradap dan pendidkan adalah proses yang berlangsung di sekolah,
dengan suatu aktivitas social yang esensial yang memungkinkan masyarakat yang
kompleks dalam masyarakat modern, dan fungsi pendidikan ini mengalami proses
specialisasi lembaga dan pendidikan yang sesuai dengan peraturan (formal),
tetapi masih berhubungan dengan proses pendidikan informal diluar sekolah.
2.4.
Tujuan
dan Fungsi pendidikan
a.
Tujuan
Tujuan pendidikan adalah untuk membangun Negara
secara keseluruhan melalui penyediaan tenaga kerja yang terampil untuk
peranan-peranan yang beragam dan melalui
pengajaran pada generasi baru mengenai
tujuan-tujuan masyarakat secara menyeluruh dan alat-alat pemenuhan
mereka.
Menurut
Johan Amos Comeniuss mengatakan bahwa tujuan pendidikan untuk
membuat persiapan yang berguna diakhirat
nanti. Sepanjang hidup manusia merupakan
penyiapan diri untuk kehidupan diakhirat, dunia ini adalah buku yang paling besar
dan paling lengkap yang tidak akan habis dikaji untuk dipahami dan diambil
manfaat sepanjang hayat.[11]
Jadi pandangan diatas mengatakan setiap individu dimana harus ada
persiapan untuk kehidupan yang akan dihadapinya kelak, oleh karena itu harus
dikaji dalam bidang pendidikan dan mewajibkan pendidikan itu diberikan juga
kepada generasi-generasi baru yang akan datang. Menurut Ivan Lllich(Mudyahardjo, 2002:49)
berpendapat bahwa suatu sisitem pendidikan yang baik harus mempunyai tiga
tujuan:
Ø Memberikan
kesempatan pada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar
pada setiap saat.
Ø Memungkinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan
mereka kepada orang lain dengan mudah
melakukannya.
Ø Menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan
pendidikan, dan adanya kebebasan pada setiap orang untuk memperoleh akses pada sumber-sumber belajar yang memungkinkan
mereka leluasa mengembangkan potensi dirinya guna mencapai tujuan hidup mereka.[12]
Jadi pendapat di atas mengatakan bahwa di mana bagi setiap individu
mempunyai kebebasan dalam belajar suatu bidang sehingga membangun daya berpikir
untuk mencapai sasaran dan tujuan pendidikan.
Sebab pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh individu atau
kelompok tertentu melalui kegiatan pengajaran dan pelatihan yang berlangsung
sepanjang hidup diberbagai lingkungan belajar dalam rangka mempersiapkan
manusia agar dapat memainkan peran secara tepat.
b.
Fungsi
Pendidikan
Pendidikan berfungsi mengoptimalisasi kapasitas atau
potensi dasar siswa. Fungsi pendidikan
adalah membangun manusia yang beriman, cerdas, kompetitif, dan bermartabat. Beriman mengandung makna manusia mengakui
adanya eksistensi Tuhan dan mengikuti ajaran dan menjauhi perbuatan yang salah
atau tingka laku yang salah. Kecerdasan
rohani yang dimiliki oleh siswa tercermin dari iman, ketakwaan, akhalak mulia,
budi pekerti lurur, motifasi tinggi, optimis dan kepribadian unggul.
Menurut Danin (2011:40). Mengatakan bahwa tujuan dan
fungsi pendidikan seringnya sulit dibedakan bahkan dikacaukan[13].
Namun kata tujuan merujuk pada hasil,
sedangkan kata fungsi merujuk pada
proses. Fungsi pendidikan adalah proses
yang akan membangun setiap individu untuk menghasilkan individu yang mempunyai
kecerdasan melalui interaksi social yang membina dan memupuk pengetahuan yang
demokratis, empatik, simpatik, menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, kita dapat membuat
klimaks bahwa. Behaviorisme atau Aliran
Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang
berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan—
dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa
perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa
fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme
beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak
ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan)
dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya
dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata
lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan
individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih
refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai
individu dalam dunia pendidikan. Dan
dimana sebenarnya pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh individu
atau kelompok tertentu melalui kegiatan pengajaran dan pelatihan yang
berlangsung sepanjang hidup diberbagai lingkungan belajar dalam rangka
mempersiapkan manusia agar dapat
memainkan peran secara tepat unsure-unsur yang harus ada dalam pendidiaknan
yaitu: peserta didik, pendidik, ada
interaktif edukatif, tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode pendidikan,
dan lingkungan pendidikan. Berdasrkan
konsepsi-konsepsi pendidikan pada dasarnya upaya-upaya (proses) didalam
pendidikan pada akhirnya menapahkan diri dalam terwujudnya pribadi yang sesuai
dengan kenyataan diri dan lingkungan seseorang. Demikian pada hakikatnya pendidiykan adalah
upaya memanusiakan manusia, dan membudayakan manusia, sehingga mampu mencipta,
berkarya, berbudi baik diri bagi kehidupan kebulatan diri dan lingkungan.
B.
Saran
Didalam makalah masih terdapat banak kekurangan uraian isi makalah dari
penulis, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan, kritikan, pertanyaan,
serta tambahan, dari para pembaca sekalian.
Demi untuk memperbaiki kekurangan yang ada dalam karya ilmiah ini……………..
DAFTAR
PUSTAKA
Brennan,James F, 2006. Sejarah dan
sistem psikologi. Jakarta: PT Raja grafindo persada.
Dr.Drs.
Rulamahmadi, M.Pd. Pengantar Pendidikan, Asas dan Filsafat pendidikan.
Penerbit AR-RUZZ MEDIA, Yogakarta 2014,
Cet ke-1. Hlm 43.
Dra. Eveline Siregar, M.Pd. dan
Hartini Nara, M.Si. Teori belajar dan
pembelajaran, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta 2010. Cet-ke-3. Hlm 25.
Dr.Drs.
Rulamahmadi. M.Pd. Pengantar Pendidikan. Hlm 45
http://zidandemak.blogspot.com/2011/http://adiadelsetiawan.blogspot.com/2011/10/teori-behavioristik-dan-landasan.html.Diakses pada 14 September 2012 pukul 15.00
WIB.
12/teori-http://randhard.wordpress.com/ruang-admin/tugas-kuliah/teori-belajar-behavioristik-dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/.Diakses pada 14 September 2012 pukul 15.00
WIB
Nanang
Purwanto, S.Pd.,M.Pd. Pengantar
Pendidikan. Graha Ilmu, Malang 2014, Cet ke-1. Hlm 19
Setiawan,Adi.2011.Teori Behavioristik Dan Landasan
Filosofisnya.(online)
Zidan.2011.Teori Belajar Behavioristik.(online)
[2]
Dra. Eveline Siregar, M.Pd. dan Hartini Nara, M.Si. Teori belajar dan pembelajaran, Penerbit
Ghalia Indonesia, Jakarta 2010. Cet-ke-3.
Hlm 25.
[3]
Ibid.
[4] http://zidandemak.blogspot.com/2011/12/teori-belajar
behavioristik.html.Diakses pada 14
September 2012 pukul 15.00 WIB.
[6] http://adiadelsetiawan.blogspot.com/2011/10/teori-behavioristik-dan-landasan.html.Diakses pada 14 September 2012 pukul 15.00 WIB.
[7]http://randhard.wordpress.com/ruang-admin/tugas-kuliah/teori-belajar-behavioristik-dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/.Diakses pada 14 September 2012 pukul 15.00 WIB
[9] http://adiadelsetiawan.blogspot.com/2011/10/teori-behavioristik-dan-landasan.html.Diakses pada 14 September 2012 pukul 15.00 WIB.
[10]
Nanang Purwanto, S.Pd.,M.Pd. Pengantar
Pendidikan. Graha Ilmu, Malang 2014, Cet ke-1. Hlm 19
[11] Dr.Drs. Rulamahmadi, M.Pd.
Pengantar Pendidikan, Asas dan Filsafat pendidikan. Penerbit AR-RUZZ MEDIA, Yogakarta 2014, Cet
ke-1. Hlm 43.
[12] Dr.Drs. Rulamahmadi. M.Pd.
Pengantar Pendidikan. Hlm 45
[13] Ibid. hlm 45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar