Kamis, 21 Juni 2018

karya ilmiah tentang behaviorisme


PANDANGAN    BEHAVORISME
TENTANG DUNIA PENDIDIKAN
O
L
E
H
Nama kelompok          :       Alfred U. Oka
 :       Petrus Radja


Diserahkan:
Kepada  Agustina yohanis S.Pdk
 sebagai bagian dari tugas makalah  psikologi umum


SEKOLAH  TINGGI AGAMA  KRISTEN  INFORMATIKA TIMOR INDONESIA.
( S  T  A  K  R  I )
KUPANG
2016

DAFTAR ISI
BAB  1    PENDAHULUAN……………………………………………………………
A.    Latar Belakang………………………………………………………
B.     Rumusan  Masalah…………………………………………………
C.    Tujuan Penulisan…………………………………………………….
BAB II      PEMBAHASAN……………………………………………………………
            2.1. Pengertian Behaviorisme………………………………………………
2.2. Tokoh-Tokoh Behaviorisme……………………………………………. 
2.3. Pengertian Pendidikan……………………………………………………
2.4.Tujuan Dan Fungsi Pendidikan…………………………………………
           
BAB III    PENUTUP……………………………………………………………………
            3.1. Kesimpulan……………………………………………………………….
             3.2. saran……………………………………………………………………..

DAFTAR  PUSTAKA………………………………………………………………










BAB   I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang

Teori-teori pembelajaran dalam desain pembelajaran tentang pendidikan mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran yang berteknologi dapat meningkatkan nilai para pelajar , sikap mereka terhadap pendidikan, dan evaluasi diri dalam pengalaman belajar mereka.   Teknologi juga dapat membantu  untuk meningkatkan interaksi antara pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar yang berpusat pada pelajar.   Dengan kata lain, penggunaan media menggunakan computer media dapat membantu siswa itu yang bermanfaat dan berkualitas.
Guru sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat.  Strategi pembelajaran harus dipilih untuk memotifasi para pelajar, memfasilitasi proses belajar, mendorong terjadinya interaksi dan memfasilitasi belajar  kontekstual.    Jika menelaah ilmu psikologi, kita akan menemukan banyak teori.     Jadi setiap manusia pasti mengalami sebuah proses pendidikan.   Seringkali manusia dalam menempu pendidikan, makna dan hakikat tentang pendidikan ang sebenarnya terlupakan.   Hal ini terjadi karean manusia memandang pendidikan sebagai kewajiban ang harus ditempuh, bukan sebagai kebutuhan dan pada akhirnya kegiatan pendidikan yang menjadi rutinitas
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian behaviorisme ?
2.      Apa pengertian pendiidikan?
C. tujuan Penulisan
1.      untuk mengetahui tentang pengertian behaviorisme
2.      untuk mengetahui pengertian pendidikan
3.       para penulis akan membahas lebih lanjut mengenai pandangan behaviorisme tentang dunia pendidikan




















                                   

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.            Pengertian Behaviorisme
Behaviorisme adalah aliran perilaku (perspektif belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada semua yang dilakukan oleh organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan dapat dan harus dianggap sebagai perilaku.  Aliran ini berpendapat bahwa perilku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau seperti pikiran. [1]  Behaviorisme beranggapan bahwa, teori harus memiliki dasar yang bias diamati tetapi tidak ada perbedaan antara proes yang diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).  
Menurut teori belajar behaviorisme(behavioritik) atau aliran tingkah laku, belajar di artikan sebagai proses perubahan tingkah laku  sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. [2]
Jadi pandangan di atas mengatakan bahwa di mana belajar mempunyai proses yang cukup panjang sehingga seseorang mempunyai wawasan yang luas akibat berintereaksi dengan lingkungan maupun social, dan proses tingkah laku yang menggunakan penguatan pada saat yang tepat, hingga respons sesuai dengan yang di isyaratkan.   Menurut psikologi behaviorisme belajar adalah suatu  proses control instrumental  yang berasal dari lingkungan[3].
Sesuai dengan argument di atas belajar adalah proses dimana individu mencaritahu apa ang belum ia ketahui, dan proses belajar dipengaruhi oleh factor lingkungan, dan proses belajar itu bias dimana saja dan kapan saja.
Teori belajar yang lebih menekankan pada tingka laku manusia yang mengandung individu sebagai makluk reaktif yang menerima respons terhadap lingkungan.   Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku seseorang.   Behaviorisme muncul sebagai kritik  lebih lanjut dari keragaman budaya.    Behaviorisme secara keras menolak unsure-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai objek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.
2.2.            Tokoh-Tokoh Behaviorisme
a.      Teori  Belajar  Edward Lee Thorndike (1874-1874-1949)
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori“connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop didalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan sebuah tindakan yang diikuti oleh perubahan yang memuaskan didalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan diulangi kembali akan semakin meningkat.[4]
Sesuai dengan argument diatas belajar adalah proses interaksi antara stimulus yang berupa pikiran, perasaan, atau gerakan dan respons, yang juga bisa berbentuk pikiran, perasaan,atau gerakan.   Serta belajar adalah wujud tingka laku yang bisa diamati.
b.      Teori  Belajar  Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) dan Watson
Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing.  Dalam percobaan inivanjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penandawaktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank.  Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan.[5]
Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar.  Belajar menurut teori diatas  suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.  Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
c.       Carlk L. Hull
Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai pada penguatan tingka laku. Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsur O organisme). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang dapat dilihat pada faktor R yang berupa output.[6]
Jadi sesuai dengan pendapat diatas yang menjadi sumber dalam belajar itu adalah penguatan (reinforcement), sehingga fungsi dari penguatan itu menjadi mempengaruh bagi organisme yang berperan didalam belajar, sehingga mencapai hasil atau output.    Implikasi praktisnya adalah Guru harus merencanakan kegiatan belajar berdasarkan pengamatan yang dilakukan  terhadap  motifasi belajar yang terdapat pada sisiwa.   Denganadana motifasi, maka belajar merupakan pengetahuan.   Makin banyak belajar, makin banak penguatan (reinforcement) makin besar motifasi memberikan respons yang menuju keberhasilan belajar.
d.      Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)
Skinner menganggap bahwa reinforcement merupakan factor penting dalam proses belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning.  Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli.  Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. [7]
Sesuai pandangan diatas seorang individu atau sisiwa hanya bergantung pada dimana rangsangan yang membuat seseorang menjadi focus atas rangsangan yang diterima, tetapi juga membutuhkan penguatan yang penting.   Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.
e.       Robert Gagne (1916-2002)
Teori gagne banyak dipakai untuk mendisain Software instructional (Program berupaDrill Tutorial). Kontribusi terbesar dari teori instructional Gagne adalah 9 kondisiinstructional:
1.      Gaining attention = mendapatkan perhatian
2.      intorm learner of objectives = menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akandicapai
3.      stimulate recall of prerequisite learning = stimulasi kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar.
4.       Present new material = penyajian materi baru
5.       Provide guidance = menyediakan pembimbingan
6.      Elicit performance = memunculkan tindakan
7.      Provide feedback about correctness = siap memberi umpan balik langsung terhadap hasil yang baik 
8.      Assess performance = Menilai hasil belajar yang ditunjukkan
9.       Enhance retention and recall = meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat.[8]
Pandangan diatas bersependapat dengan dengan Skinner bahwa reinforcement sangat penting dalam belajar, meskipun alasan daripada kedua tokoh psikologi ini berbeda namun mempunyai tujuan dan maksud yang sama.  Jadi Gagne disebut sebagai modern noebehaviouristik(untuk memenuhi tugas) mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi.

f.       Albert Bandura (1925-sekarang)
Teori belajar Bandura adalah teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diri yang menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif perilaku dan pengaruh lingkungan. Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi motorik, motivasi.Aplikasi teori behaviouristik terhadap pembelajaran siswa Guru yang menggunakan paradigma behaviourisme akan menyusun bahan pelajaran yang sudah siap sehingga tujuan pembelajaran yang dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru.[9]

Guru tidak hanya memberi ceramah tetapi juga contoh-contoh.  Bahan pelajaran disusun dari yang sederhana sampai yang kompleks.   Hasil dari pembelajaran dapat diukur dan diamati, kesalahan dapat diperbaiki.  Hasil yang diharapkan adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan Kekurangan dan kelebihan Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsure kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan dsb.
Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat mekanis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter.  Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.
Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai  obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.  Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya.
Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt.Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang diAS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.
Aplikasi Teori Belajar Behaviorisme dalam Pembelajaran
Untuk mengaitkan teori behaviorisme dengan praktik pembelajaran, perlu dipahami terlebih dulu, mengenai prinsip belajar menerut behaviorisme. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Teori ini beranggapan bahwa yabg dimaksud dengan belajar adalah perubahan tingkah laku. seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukan perubahan tingkah laku tertentu.  Perubahan perilaku itu biasa negative atau positif bergantung apa yang ingin dipelajari.
2.      Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, yang terjadi karena hubungan stimulus dan respon, sedangkan proses yang terjadi antara stimulus respon,  yang tidak dapat diamati itu tidak penting.
3.      Perlunya Reinforcement untul memunculkan perilaku yang diharapkan. Respons akan semakin kuat jika reinforcement (baik positif maupun negative) ditambah.
Penekanan proses belajar menurut teori behaviorisme ini adalah hubungan stimulus dan respon.  Dengan demikian, agar pembelajaran dikelas menjadi efektif,  hendakya guru perlu memperhatikan  hal-hal berikut:
a.       Guru hendaknya memilih jenis stimulus yang tepat untuk diberikan kepada peserta didik agar peserta dapat memberikan respon yang diharapkan.
b.      Guru hendaknya menentukan jenis respon yang harus dimunculkan oleh peserta didik. Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukan peserta didik benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan, guru harus mampu menetapkan bahwa respons itu dapat diamati dan diukur.
c.       Guru perlu memberikan pemahaman  yang tepat untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan muncul dari peserta didiknya.
d.      Guru hendaknya segera memberikan umpan balik secara langsung, sehingga sipelajar dapat mengetahui apakah respont yang diberikan telah benar atau belum.
Meningkatkan Perilaku yang Diinginkan
Enam strategi pengkondisian operant dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan, yaitu :memilih penguat yang efektif, membuat penguat yang bergantung dan tepat waktu, memilih jadwal terbaik  untuk penguatan, mempertimbangkan membuat perjanjian kontrak, menggunakan penguatan negative secara efektif, dan menggunakan arahan seta pembentukan
1.      Memilih Penguat yang Efektif
Guru harus mampu menemukan penguat mana yang berhasil dengan paling baik untuk setiap peserta didiknya, yaitu membedakan setiap individu dalam menggunakan penguat tertentu. Satu jenis penguat tertentu untuk peserta didik A belum tentu cocok untuk peserta didik B. contoh: peserta didik A cocok dengan penguat pujian,peserta didikC cocok dengan aktivitas dengan diberikan aktivitas tertentu yang disukai, dan lain-lain. Untuk mengetahui penguat mana yang disukai dapat ditanyakan langsung kepada peserta didik tentang penguat mana yang paling disukai atau dengan memeriksa sejarah penguatan dari guru lain
2.      Membuat penguat menjadi bergantung pada tepat dan waktu.
Agar penguat efektif, guru harus memberikan penguat secara tepat waktu dan segera mungkin setelah anak menampilkan perilaku tertentu yang diharapkan.

3.      Pilih jadwal terbaik untuk penguatan
Guru harus memilih jadwal penguatan terbaik sesuai dengan tuntutan perilaku peserta didik yang diharapkan guru. Pilihan jadwal tersebut adalah; jadwal rasio tetap, jadwal rasio variabel, jadwal interval tetap, dan jadwal interval variabel, dan ke empat jenis jadwal penguatan sudah diuraikan sebelumnya.
4.      Pertimbangan untuk Membuat Kontrak
Analisis perilaku terapan menyarankan bahwa kontrak kelas seharusnya merupakan hasil masukan dari guru maupun peserta didik. Pembuatan kontrak melibatkan pembuatan ketergantungan penguatan secara tertulis. Jika masalah timbul, dan peserta didik ingkar janji, guru dapat menunjukkan kontrak yang telah mereka setujui.
5.      Gunakan Pnguatan Negatif secara efektif
Penguatan negative, meningkatkan frekuensi respon dengan menghilangkan stimulus yang tidak disukai. Contoh: stimulus guru yang sering mengkritik atau tidak menghargai jawaban serta pertanyaan peserta didik  harus dihilangkan agar frekuensi bertanya dan frekuensi berani menjawab semakin meningkat.
6.      Gunakan Arahan dan Pembentukan
Arahan merupakan stimulus yang ditambahkan atau isyarat yang diberikan tepat sebelum terjadinya kemungkinan peningkatan respon yang diinginkan. Arahan membantu perilaku terjadi. Setelah peserta didik secara konsisten memperlihatkan respon yang benar, arahan tidak lagi dibutuhkan. Jika arahan belum mampu membuat peserta didik menampilkan perilaku yang diharapkan, guru perlu membantu dengan pembentukan. Pembentukan (shaping) melibatkan pembelajaran perilaku baru dengan memperkuat perkiraan secara berturut-turut terhadap suatu perilaku sasaran.
Mengurangi Perilaku yang Tidak Diinginkan
Ada beberapa langkah yang dapat digunaka guru untuk mengurangi perilaku anak yang tidak diinginkan, seperti: menganggu teman, memonopoli diskusi kelas, bersikap sok tau pada guru (Alberto & Troutman dalam Santrouck)
1)      Gunakan Penguatan Deferensial
Dalam penguatan deferensial, guru memperkuat perilaku yang lebih pantas atau perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak tersebut. Contoh: guru dapat memperkuat pesrta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran dengan memanfaatkan komputer dari pada komputer hanya dipakai untuk memainkan game.
2)      Hentikan Penguatan (Extinction)
Tanpa disengaja guru memberikan penguatan positif yang justru membuat perilaku pesrta didik yang tidak diharapkan semakin terpelihara. Dengan demikian,guru harus segera menghentikan penguatan positif tersbut agar perilaku yang tidak diharapkan menurun atau hilang dan guru memberikan penguatan positif lagi setelah perilaku yang diharapkan muncul. Contoh, guru selalu memberi perhatian pada pesrta didik yang selalu bertanya dan menjawab dalam acara diskusi kelompok, akhirnya ada pesrta didik yang tanpa sadar mendominasi peserta didik lain hanya untuk mengejar pujian atau nilai. Dalam kasus ini, guru segera menghentikan penguatan dengan cara meminta pesrta didik tersebut agar memberi kesempatan pada teman lain yang belum aktif.
3)      Hilangkan Stimulus yang Diinginkan
Jika menghentikan pemberian penguatan tetap tidak berhasil meningkatkan respon diharapkan, penghilangan stimulus yang diinginkan harus dilakukan oleh guru, dengan cara time out dan respon cost. Time out adalah penghentian penguatan positif terhadap seseorang untuk sementara yaitu hamper sama dengan penghentian penguatan, yang berbeda adalah waktu penghentian penguatan positif lebih lama sampai terbentuk lagi perilaku yang diingikan.
Biaya respon (respon cost) adalah menjauhkan atau menganbil penguatan-penguatan positif dari seseorang, seperti peserta didik kehilangan hak istimewa tertentu, guru dapat menghilangkan waktu 10 menit istirahatnya atau menghilangkan haknya untuk menjadi pemantau kelas.
4)      Hadirkan Stimulus yang Tidak Disukai (Hukuman)
Jenis stimulus yang tidak disukai dan paling umum digunakan guru adalah teguran verbal serta disertai dengan kerutan dahi atau kontak mata. Tindakan ini lebih efektif digunakan ketika guru berada dekat dengan peserta didik. Teeguran tidak harus disertai bentakan atau teriakan, yang seringkali hanya menaikkan tingkat kegaduhan dikelas dan menjadikan guru sebagai model yang tidak terkendali bagi peserta didik.
2.3.            Pengertian Pendidikan
Membicarakan tentang pengantar pendidikan yang bersifat umum ini, dalam langka pertama yang harus kita perhatikan ialah memperjelas pengertian tentang istilah pendidikan.
 Menurut KKBI mengatakan bahwa pendidikan berasal dari kata “didik” (mendidik). Prof. Brodjonegoro dalam Suwarno  (1982:1-2) menyebutkan beberapa istilah pendidikn diantaranya: paedagogiek (ilmu menuntun anak), opuoeding (membesarkan), panggulawentah(mengubah), educare (melatih atau mengajarkan), dan erzchicung (membangkitkan atau mengaktifkan).[10]
Berdasarkan kedua penyataan tersebut, bahwa pendidikan dapat didefenisikan antara lain:
Sebagai suatu ilmu yang tersusun atas prinsip dan metode yang tersusun secara siitematis (terorganisasi) digunakan untuk mengajar murid secara tidak langsung mengarahkan pada defenisi pendidikan sekolah, dan sebagai   sebuah prose sang terjadi dilingkungan pendidikan (keluarga, sekolah, dan masarakat).
Pendidikan merupakan suatu lembaga dalam tiap-tiap masarakat yang beradap dan pendidkan adalah proses yang berlangsung di sekolah, dengan suatu aktivitas social yang esensial yang memungkinkan masyarakat yang kompleks dalam masyarakat modern, dan fungsi pendidikan ini mengalami proses specialisasi lembaga dan pendidikan yang sesuai dengan peraturan (formal), tetapi masih berhubungan dengan proses pendidikan informal diluar sekolah.
2.4.            Tujuan dan Fungsi pendidikan
a.      Tujuan
Tujuan pendidikan adalah untuk membangun Negara secara keseluruhan melalui penyediaan tenaga kerja yang terampil untuk peranan-peranan  yang beragam dan melalui pengajaran pada generasi baru mengenai  tujuan-tujuan masyarakat secara menyeluruh dan alat-alat pemenuhan mereka.   
Menurut Johan Amos Comeniuss  mengatakan bahwa tujuan pendidikan untuk membuat  persiapan yang berguna diakhirat nanti.  Sepanjang hidup manusia merupakan penyiapan diri untuk kehidupan diakhirat, dunia ini adalah buku yang paling besar dan paling lengkap yang tidak akan habis dikaji untuk dipahami dan diambil manfaat sepanjang hayat.[11]
Jadi pandangan diatas  mengatakan setiap individu dimana harus ada persiapan untuk kehidupan yang akan dihadapinya kelak, oleh karena itu harus dikaji dalam bidang pendidikan dan mewajibkan pendidikan itu diberikan juga kepada generasi-generasi baru yang akan datang.   Menurut Ivan Lllich(Mudyahardjo, 2002:49) berpendapat bahwa suatu sisitem pendidikan yang baik harus mempunyai tiga tujuan:
Ø  Memberikan kesempatan pada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat.
Ø  Memungkinkan  semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka  kepada orang lain dengan mudah melakukannya.
Ø   Menjamin tersedianya  masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan, dan adanya kebebasan pada setiap orang untuk memperoleh akses  pada sumber-sumber belajar yang memungkinkan mereka leluasa mengembangkan potensi dirinya guna mencapai tujuan hidup mereka.[12]
Jadi pendapat di atas  mengatakan bahwa di mana bagi setiap individu mempunyai kebebasan dalam belajar suatu bidang sehingga membangun daya berpikir untuk mencapai sasaran dan tujuan pendidikan.    Sebab pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu melalui kegiatan pengajaran dan pelatihan yang berlangsung sepanjang hidup diberbagai lingkungan belajar dalam rangka mempersiapkan manusia agar dapat memainkan peran secara tepat.
b.      Fungsi Pendidikan
Pendidikan berfungsi mengoptimalisasi kapasitas atau potensi dasar siswa.  Fungsi pendidikan adalah membangun manusia yang beriman, cerdas, kompetitif, dan bermartabat.   Beriman mengandung makna manusia mengakui adanya eksistensi Tuhan dan mengikuti ajaran dan menjauhi perbuatan yang salah atau tingka laku yang salah.   Kecerdasan rohani yang dimiliki oleh siswa tercermin dari iman, ketakwaan, akhalak mulia, budi pekerti lurur, motifasi tinggi, optimis dan kepribadian unggul. 
Menurut Danin (2011:40). Mengatakan bahwa tujuan dan fungsi pendidikan seringnya sulit dibedakan bahkan dikacaukan[13]. Namun kata tujuan merujuk pada hasil, sedangkan kata fungsi merujuk pada proses.   Fungsi pendidikan adalah proses yang akan membangun setiap individu untuk menghasilkan individu yang mempunyai kecerdasan melalui interaksi social yang membina dan memupuk pengetahuan yang demokratis, empatik, simpatik, menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).






















BAB  III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, kita dapat membuat klimaks bahwa.    Behaviorisme atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme  termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan— dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu dalam dunia pendidikan.  Dan dimana sebenarnya pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu melalui kegiatan pengajaran dan pelatihan yang berlangsung sepanjang hidup diberbagai lingkungan belajar dalam rangka mempersiapkan manusia agar  dapat memainkan peran secara tepat unsure-unsur yang harus ada dalam pendidiaknan yaitu:  peserta didik, pendidik, ada interaktif edukatif, tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode pendidikan, dan lingkungan pendidikan.   Berdasrkan konsepsi-konsepsi pendidikan pada dasarnya upaya-upaya (proses) didalam pendidikan pada akhirnya menapahkan diri dalam terwujudnya pribadi yang sesuai dengan kenyataan diri dan lingkungan seseorang.   Demikian pada hakikatnya pendidiykan adalah upaya memanusiakan manusia, dan membudayakan manusia, sehingga mampu mencipta, berkarya, berbudi baik diri bagi kehidupan kebulatan diri dan lingkungan.
B.     Saran
Didalam makalah masih terdapat  banak kekurangan uraian isi makalah dari penulis, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan, kritikan, pertanyaan, serta tambahan, dari para pembaca sekalian.  Demi untuk memperbaiki kekurangan yang ada dalam karya ilmiah ini……………..









DAFTAR PUSTAKA
Brennan,James F, 2006. Sejarah dan sistem psikologi. Jakarta: PT Raja grafindo persada.
Dr.Drs. Rulamahmadi, M.Pd. Pengantar Pendidikan, Asas dan Filsafat pendidikan. Penerbit   AR-RUZZ MEDIA, Yogakarta 2014, Cet ke-1.  Hlm 43.

Dra. Eveline Siregar, M.Pd. dan Hartini Nara, M.Si.  Teori belajar dan pembelajaran, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta 2010. Cet-ke-3.  Hlm 25.

Dr.Drs. Rulamahmadi. M.Pd. Pengantar Pendidikan. Hlm 45
             http://zidandemak.blogspot.com/2011/http://adiadelsetiawan.blogspot.com/2011/10/teori-behavioristik-dan-landasan.html.Diakses pada 14 September 2012 pukul 15.00 WIB.

Nanang Purwanto, S.Pd.,M.Pd.  Pengantar Pendidikan. Graha Ilmu, Malang 2014, Cet ke-1. Hlm 19

Setiawan,Adi.2011.Teori Behavioristik Dan Landasan Filosofisnya.(online)

Zidan.2011.Teori Belajar Behavioristik.(online)








[1] Setiawan,Adi.2011.Teori Behavioristik Dan Landasan Filosofisnya.(online)

[2] Dra. Eveline Siregar, M.Pd. dan Hartini Nara, M.Si.  Teori belajar dan pembelajaran, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta 2010. Cet-ke-3.  Hlm 25.
[3] Ibid.
[5] Zidan.2011.Teori Belajar Behavioristik.(online)

[8] Brennan,James F, 2006. Sejarah dan sistem psikologi. Jakarta: PT Raja grafindo persada.

[10] Nanang Purwanto, S.Pd.,M.Pd.  Pengantar Pendidikan. Graha Ilmu, Malang 2014, Cet ke-1. Hlm 19
[11] Dr.Drs. Rulamahmadi, M.Pd. Pengantar Pendidikan, Asas dan Filsafat pendidikan. Penerbit   AR-RUZZ MEDIA, Yogakarta 2014, Cet ke-1.  Hlm 43.
[12] Dr.Drs. Rulamahmadi. M.Pd. Pengantar Pendidikan. Hlm 45
[13] Ibid. hlm 45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar